Hadrah Kuntulan: Ketika Dakwah Berbunyi di Bumi Blambangan
Jauh sebelum masyarakat mengenal pengeras suara, media sosial, bahkan radio, dakwah Islam telah menemukan jalannya sendiri di Bumi Blambangan. Di tanah paling timur Pulau Jawa ini, ajaran agama tidak hanya disampaikan melalui mimbar atau pengajian, tetapi juga melalui bunyi rebana, lantunan shalawat, dan gerak seni yang memikat hati masyarakat.
Dari proses panjang itulah lahir Hadrah Kuntulan, salah satu kesenian tradisi Islam yang hingga kini tetap hidup di Banyuwangi. Ia bukan sekadar pertunjukan rakyat, melainkan jejak sejarah tentang bagaimana agama dan budaya saling bertemu, berdialog, lalu tumbuh bersama.
Bumi Blambangan dan Jalan Damai Dakwah Islam
Dalam sejarah Banyuwangi, proses Islamisasi tidak berlangsung secara tiba-tiba. Wilayah Blambangan dikenal sebagai salah satu kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa yang mempertahankan tradisi lamanya hingga beberapa abad setelah kerajaan-kerajaan lain telah memeluk Islam. Karena itu, penyebaran Islam di kawasan ini berlangsung secara bertahap melalui pendekatan budaya, perdagangan, pendidikan, hingga kesenian.
Para ulama, mubalig, dan jaringan dakwah yang berkembang di wilayah pesisir memilih jalan yang lebih membumi. Mereka tidak serta-merta menghapus tradisi masyarakat, melainkan mengisinya dengan nilai-nilai Islam. Pendekatan inilah yang kemudian melahirkan berbagai kesenian bernapaskan Islam, termasuk tradisi hadrah yang berkembang di tengah masyarakat Using Banyuwangi.
Menurut dokumentasi Pusaka Jawatimuran (2012), kesenian Hadrah Berjanji tumbuh dari tradisi pembacaan kitab Al-Barzanji yang diiringi tabuhan rebana. Melalui syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW, masyarakat diperkenalkan pada ajaran Islam dengan cara yang mudah diterima dan dekat dengan kehidupan mereka.
Lantunan shalawat yang merdu dipadukan dengan irama rebana membuat dakwah terasa akrab. Bukan hanya didengar, tetapi juga dinikmati. Dari sinilah kesenian hadrah perlahan berkembang menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Banyuwangi.
Tradisi yang Telah Mengakar Sejak Awal Abad ke-20
Hadrah Kuntulan bukanlah tradisi yang baru muncul pada masa modern. Keberadaannya telah tercatat dalam catatan antropolog Belanda John Scholte pada tahun 1926, menunjukkan bahwa kesenian ini telah dikenal luas di Banyuwangi pada masa kolonial (Budaya Indonesia, n.d.).
Pada bentuk awalnya, pertunjukan Hadrah Kuntulan sangat kental dengan nuansa Arab-Islam. Para pemain umumnya laki-laki, mengenakan busana muslim, memainkan rebana sambil melantunkan syair-syair dari kitab Al-Barzanji. Gerakan yang ditampilkan masih sederhana karena fokus utamanya adalah pembacaan shalawat dan pujian kepada Rasulullah SAW.
Tradisi tersebut biasanya dipentaskan dalam berbagai momentum keagamaan seperti Maulid Nabi, khitanan, pernikahan, selamatan desa, hingga peringatan hari-hari besar Islam. Dengan demikian, Hadrah Kuntulan sejak awal memiliki fungsi religius sekaligus sosial.
Ketika Budaya Lokal Bertemu Tradisi Islam
Seiring perjalanan waktu, masyarakat Banyuwangi mulai memberi sentuhan lokal pada kesenian hadrah. Inilah yang kemudian melahirkan bentuk Hadrah Kuntulan yang dikenal saat ini.
Gerakan tari menjadi lebih dinamis. Formasi pemain semakin variatif. Bahkan unsur-unsur artistik dari kesenian lokal seperti Gandrung, Damarwulan, dan Trengganis ikut memengaruhi pola gerak, kostum, maupun penyajian pertunjukannya. Irama rebana tetap menjadi identitas utama, namun nuansa musikal Banyuwangi mulai berpadu di dalamnya.
Akulturasi tersebut tidak menghilangkan identitas Islam yang menjadi ruh kesenian ini. Sebaliknya, perpaduan tersebut justru memperlihatkan kemampuan budaya lokal dan ajaran Islam untuk saling menguatkan. Nilai-nilai keislaman tetap hadir melalui shalawat, syair pujian, dan pesan moral, sementara ekspresi seni berkembang mengikuti karakter masyarakat Banyuwangi.
Fenomena inilah yang sering dijadikan contoh bagaimana dakwah Islam di Nusantara berkembang melalui pendekatan budaya. Agama tidak hadir sebagai kekuatan yang menghapus tradisi, melainkan memberi makna baru pada kebudayaan yang telah hidup di tengah masyarakat.
Tiga Bentuk Kesenian Hadrah di Banyuwangi
Dalam perkembangannya, masyarakat Banyuwangi mengenal sedikitnya tiga bentuk kesenian bernapaskan Islam yang menggunakan rebana atau terbang sebagai instrumen utama.
1. Pertama, Hadrah. Bentuk ini merupakan format paling sederhana dengan iringan rebana dan pembacaan syair-syair dari kitab Al-Barzanji. Gerakan pemain relatif sederhana karena lebih menekankan pembacaan shalawat secara berjamaah.
2. Kedua, Kuntulan. Bentuk ini berkembang menjadi seni pertunjukan yang lebih dinamis. Selain rebana, pertunjukan diwarnai koreografi, pola lantai, kostum, serta pengaruh estetika kesenian Banyuwangi sehingga lebih menarik sebagai tontonan tanpa meninggalkan fungsi dakwah.
3. Ketiga, Kundharan atau Kundaran. Jenis ini merupakan pengembangan dari Kuntulan yang memadukan instrumen rebana dengan unsur-unsur pertunjukan lain sehingga tampil lebih variatif dan atraktif (Pusaka Jawatimuran, 2012).
Perbedaan ketiganya menunjukkan bahwa tradisi hadrah di Banyuwangi bukanlah kesenian yang statis. Ia terus berkembang mengikuti dinamika masyarakat tanpa meninggalkan akar religiusnya.
Dari Kampung Hingga Panggung Dunia
Kini Hadrah Kuntulan tidak lagi hanya hidup di desa-desa Banyuwangi. Kesenian ini telah tampil di berbagai kota di Indonesia bahkan di luar negeri sebagai representasi budaya Islam Nusantara.
Menurut Budaya Indonesia, Hadrah Kuntulan pernah dipentaskan di Jepang dengan membawakan berbagai repertoar seperti Rodad Syi'iran, Rodad Tontonan, hingga kolaborasi bersama kesenian Barongan. Penampilan tersebut menjadi bukti bahwa seni tradisi Banyuwangi mampu berdialog dengan masyarakat internasional tanpa kehilangan identitasnya.
Pengakuan terhadap nilai budaya Hadrah Kuntulan juga tampak pada peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama di Stadion Diponegoro Banyuwangi pada Januari 2023. Ribuan masyarakat menyaksikan pertunjukan Hadrah Nusantara yang melibatkan sekitar 300 penabuh rebana dan 500 penari di hadapan Presiden Joko Widodo. Pertunjukan tersebut menjadi simbol bahwa tradisi Islam Nusantara masih memiliki daya hidup yang kuat di tengah masyarakat modern.
Menjaga Bunyi Dakwah Agar Tidak Hilang
Di era digital, ketika hiburan dapat diakses hanya melalui layar telepon genggam, Hadrah Kuntulan mengingatkan kita bahwa dakwah pernah tumbuh melalui kedekatan antarmanusia. Rebana ditabuh bersama, shalawat dilantunkan bersama, dan nilai-nilai agama diwariskan melalui ruang-ruang kebudayaan.
Hadrah Kuntulan bukan hanya warisan seni pertunjukan. Ia adalah arsip hidup perjalanan Islam di Banyuwangi, bukti bahwa dakwah dapat hadir dengan kelembutan, keindahan, dan penghormatan terhadap budaya setempat.
Setiap kali rebana ditabuh dan shalawat berkumandang, sesungguhnya yang sedang dihidupkan bukan hanya sebuah pertunjukan, melainkan ingatan kolektif tentang perjalanan panjang Islam di Bumi Blambangan. Menjaganya berarti merawat sejarah, memelihara identitas, sekaligus meneruskan pesan dakwah yang diwariskan oleh para ulama kepada generasi berikutnya.
Daftar Pustaka
Budaya Indonesia. (n.d.). Hadrah Kuntulan Banyuwangi: Saksi bisu pencampuran budaya Arab dan Islam. Budaya Indonesia. https://budaya-indonesia.org/Hadrah-Kuntulan-Banyuwangi-Saksi-Bisu-pencampuran-budaya-arab-dan-Islam
Pusaka Jawatimuran. (2012, Juni 16). Kesenian hadrah Berjanji, Kabupaten Banyuwangi. Pusaka Jawatimuran. https://jawatimuran.wordpress.com/2012/06/16/kesenian-hadrah-berjanji-kabupaten-banyuwangi/
Pusaka Jawatimuran. (2012, Juni 16). Kesenian bernafaskan Islam, Kabupaten Banyuwangi. Pusaka Jawatimuran. https://jawatimuran.wordpress.com/2012/06/16/kesenian-bernafaskan-islam-kabupaten-banyuwangi/
Arif, M. (2019). Kesenian Hadrah Kuntulan Banyuwangi: Tinjauan komodifikasi agama. UIN Jakarta. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/69851/3
Aqsanti, A. et al. (2022). Tradisi Hadrah Kuntulan Banyuwangi pada pelantikan pengurus Ikawangi di Kabupaten Sorong. Jurnal Al-Hikmah, IAIN Sorong, 1(2), 34–43.
Tempo. (2023, Januari 9). Dihadiri Jokowi, Festival Tradisi Islam Nusantara di Banyuwangi ramaikan Harlah Satu Abad NU. Tempo.co. https://www.tempo.co/politik/dihadiri-jokowi-festival-tradisi-islam-nusantara-di-banyuwangi
NU Online Banyuwangi
Jurnalis / Kontributor resmi portal berita.
Berita Terkait
Daerah
Turba ke-6 di Siliragung, PCNU Banyuwangi Beberkan Temuan Penting tentang Kondisi Ranting NU
Daerah
Turba PCNU Banyuwangi di Pesanggaran Hasilkan Rekomendasi Penguatan Program Banom dan Lembaga NU
Daerah